Selasa, 29 Januari 2019

Benarkah Namkak dan Tolol Penyebab Lambat-nya Pembangunan di TTS?


Korupsi dilakukan perorangan dan bersama-sama (korupsi massal). Jurus aji Mumpung dipraktekkan, mumpung jadi pejabat, perkaya diri. Beberapa hari ini sedang mejadi pembicaraan hangat di kalangan pencinta sosial media dan perbincangan masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) khusus-nya di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) adalah pernyataan Gubernur Viktor Laiskodat yang cukup kontroversial. 
Pernyataan ini mengundang pro kontra sampai hari ini.




Seperti di kutip di laman VoxNTT dikatakan, 

“Pak Sekda tidak selesaikan masalah KTP maka saya berhentikan. Berapa kali saya telepon Ketua DPRD TTS, hanya Ketua DPRD tukang ngantuk. Sayangnya pemimpin di TTS ini, Ketua DPR dan Bupati sama nganga (Namkak dalam istilah bahasa Dawan di TTS, red) dan tololnya,” hardik Gubernur Victor.

Pro kontra ini meluas karena digoreng sana-sini dan dibagikan luas di media sosial dan group-group whatsapp. Bagi pihak yang pro, pernyataan gubernur ini adalah cambuk untuk membangunkan atau obat yang menyembuhkan. Tapi dipihak yang kontra ini adalah upaya meng-degradasi kemampuan orang TTS dalam mengelola pemerintahan.

Apakah betul pembangunan di TTS jalan ditempat atau adakah faktor penyebab lain. Mari kita kaji bersama.

Diketahui bahwa luas wilayah Kabupaten TTS adalah 3,947 km2, terdiri dari 32 kecamatan dengan jumlah penduduk sesuai data BPS tahun 2015 adalah 459,310 laki-laki dan perempuan. Terbesar ke-3 setelah Kab Sumba Timur dan Kab Kupang.

Membentang diantara jalur utama yang menghubungkan Kupang sebagai Ibu Kota Propinsi Timor Barat NTT dan Dili sebagai Ibu Kota Timor Timur, letak TTS ini sangat strategis. Jalur utama ini yang membuat Jalan Raya selalu dimanjakan dengan perbaikan dan pemeliharaan. Modal ini saja cukup bagus sebagai sarana distribusi berbagai produk dan koneksi pusat (kupang) - daerah (kabupaten).

Potensi wisata dan kekayaan alam di TTS juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Semua orang di Indonesia bahkan manca negara pernah terkagum melihat dan mendengar tentang Apel SoE, Marmer NTT, Batu Warna NTT, Pantai Kolbano, Pantai Boking, Mujizat Air menjadi Anggur, dan sebagainaya. Ya semua itu made off TTS.

Lalu mengapa TTS jalan ditempat dan kalah dengan kabupaten yang lain secara pembangunan?

1. Faktor Primordialisme dan Nepotisme Pemimpin NTT.


TTS pernah berjaya, kala Gubernur Piet A. Tallo menjabat Gubernur NTT periode 1998-2008. Selain prestasi beliau sebagai Bupati yang sangat baik di Era-nya, latar belakangnya ini cukup membuat TTS diperhatikan dalam beberapa skala pembanguan infrastruktur, walaupun pada masa itu Indonesia memasuki resesi besar.

Tapi bandingkan Gubernur lain yang berasal dari Suku lain seperti Flores, maka pembangunan akan lebih terasa di Flores, dan sebagai-nya

Tidak heran kalau dalam beberapa dekade ini Pembangunan di Flores sangat wah.

Jajaran pemerintahan di Teras kota dan jabatan penting diberikan kepada orang se-suku. Pembuat Anggaran dari orang se-suku, Sekda dari orang se-suku, se-agama, dsb

Di Daerah asal Gubernur, pembangunan sangat gemerlap, sedangkan kabupaten lain hanya mendapatkan ampas-ampas anggaran pembangunan.
 



Kultur ini harus dihentikan dan dilawan, karena sarat dengan ketidakadilan dan anti pemerataan.

Gubernur NTT adalah Gubernur untuk Flobamora bukan Gubernur atas suku tertentu saja.

2. Korupsi dan korupsi berjamaah
Ampuni kami Tuhan.....

Deretan kasus korupsi di TTS cukup memalukan, diantaranya korupsi Dana Bantuan Sosial (Bansos), Korupsi Anggran Pelantikan Bupati, Korupsi APBD, Korupsi Dana Bos, Korupsi Dana Desa, dsb

Korupsi dilakukan perorangan dan bersama-sama (korupsi massal) dengan jurus aji mumpung. Mumpung menjabat, kita makan uang haram, kita kenyangkan diri sendiri biarkan yang lain makan ampas. 

Saya harapkan ormas - ormas anti korupsi didirikan dan menyuarakan gaung anti korupsi. Hubungi Hotline KPK 198, jika ada indikasi Korupsi dilakukan pejabat.

Bagaimana mau maju, dana pembangunan di korupsi

3. Pemimpin yang tidak kompeten

Saya pribadi pernah berbicara panjang lebar dengan salah seorang wakil bupati dan setelah berbicara dengan beliau, saya hanya bisa bilang wow koq bisa orang ini jadi pejabat wakil bupati.
Penggunaan Bahasa Indonesia yang ngawur, pemahaman regional dan internasional kurang, skill kurang, kurang pergaulan, tapi mengapa bisa jadi pejabat?

Kembali ke point 1 tadi (sistim yang buruk menghasilkan pemimpin yang buruk)

4. Budaya kerja ASN memalukan.

Sering keluyuran disaat jam kantor,  tidak masuk/cuti tanpa alasan jelas, yang penting absen masuk dan pulang, no money no help, molor, malas, tidak taat aturan, dsb

Ini salah satu alasan saya tidak menuruti saran ortu saya untuk menjadi PNS. 

5. Devisit APBD 

Tahun 2018 di TTS mengalami devisit Anggran yang cukup besar. Beredar Informasi devisit anggaran sebesar Rp 114,3 M lebih itu terjadi karena ada sejumlah program anggaran yang tidak direncanakan sesuai mekanisme alias program dadakan. akibat adanya program dadakan yang diistilahkan ‘penumpang gelap’ itu maka APBD membengkak sementara dana yang tersedia hanya cukup membiayai program anggaran yang melalui proses prencanaan penganggaran. Pemda dan DPRD akhirnya mencari cara untuk menutup kekurangan anggaran yang terjadi. (jmb)

6. Faktur Urbanisasi

Kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak di TTS bahkan sangat terbatas, mengakibatkan perginya Sumber Daya Manusia yang berkualitas ke kota-kota besar di jawa dan luar jawa.
Mahasiswa Berprestasi berpikir dua kali untuk kembali ke TTS, dia selalu berpikir kerja apa saya disana. 

Selain harapan menjadi seorang Abdi Negara (PNS) , apa pekerjaan yang lebih layak di TTS? Dagang? ah tidak perlu sekolah pun bisa dagang. 
Akibatnya banyak mahasiswa tidak mau pulang kampung dan memilih meniti karier yang lebih bagus di kota.

Salah satu-nya saya. 

Belum lagi pengirman pekerja rumah tangga yang masif. TKW, TKI dan sebagainya.
masih kah pemuda/pemudi menjadi tulang punggung negeri?

Hanya sebagian kecil yang pulang dan berharap bisa menjadi PNS.  


7. Kultur Ahoit Mana'pinat Neon Aklahat

Orang Timor itu cenderung tulus, lurus dan apa adanya. Ya bagus, tapi itu cenderung pula dimanfaatkan orang - orang licik untuk kepentingan syahwat politik dan kekuasaan. 
Orang kaya entah dari antah berantah datang dengan segelintir orang, boneka mereka, natokon oko mama, nait loit niufness, minta dukungan, setelah sukses maju menjadi pejabat, habis itu mereka amnesia kepada masyarakat TTS. Mereka bertambah kaya dan terkenal sedangkan orang timor tetap miskin dan jalan di tempat.

Ini harus di STOP. Percayai orang - orang disekitar kita yang setiap saat berjuang bersama kita, bangkit dari kebodohan, mengurus diri sendiri dan taatilah kunci-kunci keberhasilan dan optimis kita bisa.

 
Perkataan Pak Gubernur ini memang ditujukan kepada Pemimpin TTS yang kurang greget.
Tapi tidak kepada masyarakat TTS. 

Tidak ada orang yang dilahirkan bodoh. Tapi kalau kita bertambah tua dan tetap bodoh itu kesalahan sendiri.

Hai Orang Timor dimanapun engkau berada, Kita tidak Namkak, Kita Tidak Bodoh, Kita orang luar biasa. Sesorang pernah berkata,

"Dengan hidup sekarang di daerah yang keaadaan tanahnya tandus, kurang air dan kering saja sudah mujizat. Keberadaan kita sekarang menunjukkan kita bisa mengalahkan kondisi yang serba sulit dan tidak mendukung. Kita adalah orang - orang hebat yang bisa bertahan (Survive).
 

Tapi ini yang hendak saya katakan, ini bukan saatnya kita hanya survive, tapi kita harus Shine Up, Bright Up, Grow up.

Happy New Day brother/sister. Usi Nokan kit alakit.

(AET) 
Anak Timor Dawan.








WELCOME TO MY BLOG

Free Automatic Link

Followers

 

ANAK TIMOR DAWAN. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com | Distributed by Blogger Templates Blog